Mengapa Solo Traveling itu Asyik?

Saya punya satu resolusi perjalanan yang sudah diimpikan sejak beberapa tahun lalu. Flores. Ya, pulau di timur Indonesia entah kenapa tak bisa lepas dari pikiran. Pantai pasir putih, air laut yang bening, komodo raksasa dan rasa deg-degan membayangkan bagaimana caranya datang ke pulau yang selama ini cuma saya lihat di Instagram orang-orang.

2015, akhirnya saya putuskan untuk ke sana. Bagaimanapun caranya saya harus sampai ke sana sebelum tahun Kambing Kayu ini selesai.

Keputusan yang akhirnya saya ambil adalah solo traveling. Memang butuh waktu panjang, dan persoalan ini jadi masalah utama karena saya pekerja kantoran. Solusinya, saya memilih rehat dari kantor dan mulai mewujudkan impian menginjakkan kaki di Flores.

Jujur, saya takut. Di kepala saya solo traveling artinya menanggalkan banyak kenyamanan. Saat mulai berjalan pun sebenarnya saya masih takut bakal benar-benar sendirian. Tak ada orang yang dikenal, jalanan dan angkutannya asing, kalau mau bertanya atau minta bantuan pun mesti ke orang asing. Tapi solusi buat ketakutan abstrak seperti itu ya dengan mencoba menjalani, bukan?

Solo traveling ternyata membuka kenikmatan baru buat saya. Berjalan jauh sendirian ternyata tidak menakutkan. Saya malah jadi tahu apa rasanya merdeka karena keputusan untuk berjalan ke mana, berapa jauh, berapa lama, dan sampai kapan adalah mutlak keputusan pribadi sekaligus kepuasan bagi saya.

Dari sekian banyak kenikmatan solo traveling, hal terpenting adalah waktu untuk mengenali diri sendiri, mendengar kata hati dengan lebih jelas dan akhirnya tahu bahwa kita punya kekuatan lebih besar dari yang kita bayangkan.

Setelah pulang ke Jakarta, saya malah sadar sudah jatuh cinta dengan pulau yang seindah lukisan itu. Semoga kamu juga bisa terinspirasi dengan cerita-cerita perjalanan yang akan saya tulis dalam blog ButuhLibur ini.

Selamat Liburan!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *